Archive

Archive for the ‘Earth & Green’ Category

Cara Setting myBlogEdit

December 27, 2009 Arno Leave a comment

Setelah membaca tulisan di blog makemac tentang cara posting tulisan di blog pribadi pake Mac, gua jadi tertarik buat cobain. Nah, yang pertama gua cobain adalah posting lewat myBlogEdit. Awalnya bingung nih gimana caranya soalnya beda banget karena ini aplikasi beda dengan kalau kita menulis lewat browser.

Nah, daripada bingung baca manualnya disini gua coba kasih tips cara cepat setting aplikasi ini. Berikut caranya :

1. Download dan install aplikasi myBlogEdit
2. Run, dan muncul jendela Setup Assistant
myBlogEdit

3. Nah masukkan Account Detail dan pilih salah satu blog engine yang kita gunakan. Berikut pilihannya :

WordPress: http://yourdomain.com/xmlrpc.php
ExpressionEngine: Install dulu MetaWeblog API, di bagian ‘Modules terdapat Access Point yang dapat kita gunakan
TypePad: http://typepad.com/services/xmlrpc

MovableType: http://yourdomain.com/mt-xmlrpc.cgi – jangan lupa untuk menggunakan webservice password

4. Masukkan Blog ID kalian sesuai dengan user name yang dimiliki
5. Tara…..aplikasi siap digunakan, in some case, kita perlu untuk mengatur zona waktu agar saat kita posting dicatat sebagai zona tempat tinggal kita
6. Oh ya, untuk Blog Engine yang gak ada di daftar bisa dengan memilih API yang sesuai

Pengalaman pertama pake aplikasi ini, kesan rumit buat yang awam kayak gua pasti kita alami. But, jangan menyerah karena pengalaman menulis lebih menyenangkan dibandingkan dengan menulis langsung di browser. Salah satu keunggulannya adalah kita bisa menulis kapanpun, jadi sewaktu-waktu bisa ditinggal tidur tulisan tetep bisa dilanjutin tanpa harus koneksi ke internet. Oh ya adanya fitur Preview membuat kita bisa menyunting kapanpun tulisan kita kalo ternyata tampilannya dirasa kurang ciamik, plus aplikasi ini free trialnya gak ada habisnya cuma ada jendela peringatan untuk membeli pas buka aplikasi, so gak terlalu mengganggu lah.

Ok guys, kayaknya gua juga kudu explore lagi nih aplikasi karena banyak banget yang belum gua pelajari. So, itu dulu sharing dari gua ya….Photobucket

Lyuba Bayi Mamut Pembuka Misteri Zaman Es

May 10, 2009 Arno 2 comments

09-05Saya baru saja menyelesaikan bacaan salah satu artikel di website national geographic edisi bulan mei 2009. Topiknya menceritakan tentang penemuan bayi mamut dalam wujud utuh di daratan Siberia baik lapisan lemak, organ-organ dalam bahkan bulu matanya masih utuh, Subhanallah, Lengkapnya klik aja disini.

Penemuan tersebut luar biasa membuka mata dunia khususnya pengetahuan arkeologi. Selama ini penemuan hanya berupa rangka tulang belulang maupun beberapa potongan tubuh yang telah membeku jutaan tahun lamanya. Penemuan ini sontak menguatkan hipotesis dan gambaran ilmuwan selama ini tentang sosok mamut yang sudah banyak diekspose baik melalui film, lukisan, potret dan lain-lain.

Hal yang menarik bagi saya justru bukan bagian yang mengupas tentang si mamut ini yang diberi nama Lyuba ini, tapi tentang hipotesis bagaimana si bayi malang ini menemui ajal dan kondisi lingkungan saat itu. Ya, selama ini kita banyak dijejali dengan wacana adanya jaman es jutaan tahun yang lalu lengkap dengan histori si manusia purba bahkan asumsi-asumsi kehidupan mereka di tiap periode jaman. Sebagai orang awam, antara percaya dan tidak percaya akan adanya era tersebut, lha itu kan ide dan gambaran yang coba dibikin oleh manusia sendiri (baca ilmuwan) jadi boleh dong kalau kita mempunyai gambaran yang berbeda akan jaman itu.

Ada tidaknya jaman es tidaklah penting menjadi perdebatan. Yang perlu dijadikan catatan adalah apa sih yang menyebabkan makhluk seperti mamut itu punah? Benarkah mereka mengalami seleksi alam? Lha kalo memang semuanya mengalami seleksi alam dan berevolusi kok ya buaya dari jaman prehistoric sampai dengan sekarang kok bentuknya seperti itu. Apakah bentuk buaya yang paling bisa mengikuti perubahan jaman? Tidak juga kok. Saya sendiri juga tidak yakin akan teori itu but hampiir 100% para expertise memastikan bahwa faktor kepunahan justru didorong oleh perubahan iklim bumi yang ekstrim.

Seperti yang kita rasakan akhir-akhir ini, beberapa daerah mulai mengalami perubahan cuaca yang sedikit aneh. Anomali-anomali kejadian di beberapa permukaan bumi sepanjang tahun 2000an mulai bermunculan. Mulai dari suhu panas 32° C di Moskwa yang notabene daerah berikilim dingin, salju yang turun di daerah Afrika Selatan yang berikilim sedang (laporan national geofraphic edisi Februari 2009), hingga di negeri kita sendiri juga bisa kita saksikan perubahannya. Tahukan anda bahwa pegunungan Jayawijaya di Papua sana yang dulu dikenal dengan salju abadi yang menyelimutinya kini lapisannya mulai berkurang. Ya, mungkin ini juga yang menjadi penyebab kepunahan mamut pada jaman dulu yang disebabkan perubahan iklim yang eksterm.

Beberapa waktu yang lalu saya sempat berkunjung ke daerah karst atau kita mengenalnya sebagai daerah pegunungan kapur di daerah Tuban, Jawa Timur. Daerah ini memang sedikit sulit untuk mendapatkan air di permukaan karena posisinya secara alami bahwa persediaan air jauh berada di bawah sungai-sungai bawah tanah dalam lekukan gua-gua karst. Beberapa tahun silam di daerah tersebut masih banyak ditemukan mata air alami yang digunakan oleh penduduk setempat untuk keperluan sehari-hari. Kontras dengan yang saya saksikan terakhir, dengan kondisi lahan sudah dibuka untuk pertanian, pemukiman dan paling mencolok adalah kehadiran penambang karst untuk bahan pengolahan pabrik semen, mata air tersebut sudah mengering. Sungai-sungai berubah menjadi daratan yang kering kerontang, kesulitan air bersih sudah pasti dirasakan oleh penduduk di sekitarnya. Nah kalau sudah menjadi seperti ini apakah ada yang bertanggung jawab? Sepertinya tidak.

Nah, apakah fenomena yang dirasakan hampir di semua bagian bumi ini kita terima sebagai hal yang biasa atau membuat kita sadar bahwa kita juga harus berubah untuk menjaga alam ini agar kita sendiri tidak menjadi makhluk punah (meskipun saya pribadi yakin bahwa manusia akan punah pada saatnya). Bukanlah kehidupan kita saat ini yang hanya perlu dijadikan sebagai pertimbangan, namun cobalah untuk sedikit bersama-sama berpikir untuk jauh hari ke depan akan seperti apakah bumi tercinta kita ini. Aktivis pecinta lingkungan sudah banyak melakukan aksi di berbagai tempat, mereka bukan hanya sekedar melakukan protes atas kebijakan pemerintah yang seakan tutup kuping akan hal ini namun jauh lebih dari itu yaitu untuk menyelematkan kita semua. Alih-alih mendengarkan aspirasinya, pemerintah justru berdalih pembangunan dan modernisasi yang dilakukan adalah untuk kemaslahatan masyarakat itu sendiri. Ya semoga hal itu terbukti dengan berjalannya waktu.

Saya pribadi memiliki kebiaasaan yang cukup unik sebagai manusia yang sadar akan lingkungan. Bukan hal yang muluk-muluk kok untuk mengurangi perubahan alam. Ya…hanya mengurangi penggunaan plastik dalam kehidupan kita, terutama plastik pembungkus. Tanpa kita sadari penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari sudah memasuki ambang batas yang mengkhawatirkan. Sifatnya yang tidak bisa diuraikan oleh alam menjadikan gunungan polutan dimana-mana. Nah, anda sendiri apa yang sudah dilakukan? Nggak mau kan kalau tiba-tiba bulan depan menjadi fosil mamut.

Terus terang isu global warming secara pribadi bagi saya bukan omong kosong, toh banyak orang yang mengatakan itu hanya bualan Amerika. Tapi, pasti kita semua menyadari bahwa pesatnya industri dan tata kelola lingkungan yangmakin buruk mendorong cepatnya laju perubahan itu sendiri.  Siap tidak siap perubahan itu memang akan terjadi. Pasti…..

Categories: Earth & Green Tags:

Jakarta Makin Lembab, Masih Perlukah Pond’s?

April 14, 2009 Arno 4 comments

20-Ponds-Age-Miracle-creamKelembaban udara memang sangat diperlukan oleh manusia untuk menjaga sel-sel dalam tubuhnya tetap aktif dan tidak kekurangan cairan. Bahkan iklan produk kecantikan banyak yang mengkumandangkan “pelembab” alias “moisturizer” sebagai trade jualannya.  Nah, pertanyaannya bagaimana kalo kelembaban itu di atas 90%? Masih nyamankah?Masih perlukan  produk kecantikan itu?

Sebagai masyarakat yang tinggal di lingkungan tropis seperti Indonesia ini yang rata-rata humiditynya diatas 90% tentu sudah menjadi hal biasa merasakan “sumuk” apalagi jika malam menjelang. Bukannya merasa sejuk karena matahari sudah berhenti bersinar namun gerah dan panas yang terasa. Khususnya di Jakarta, kota terpadat dan terpolusi di Indonesia malam hari bagaikan siksaan tersendiri, terutama buat saya yang sudah terasa akhir-akhir minggu ini (baca memasuki musim kemarau). Tinggal di kamar kos hanya dengan kipas angin tentu menjadi perjuangan tersendiri melewati malam hingga subuh yang terasa luar biasa peluh ini bercucuran.

Kembali ke pertanyaan di atas, kelembaban yang tinggi ternyata tidak otomatis membawa keuntungan buat kita. Di satu sisi kelembaban memicu tumbuhnya berbagai organisme parasit salah satunya adalah Jamur. Jamur adalah organisme yang berkembangbiak dengan spora dan sangat aktif pada suasana lembab. Jadi, kita patut waspada kalo sudah memasuki musim seperti ini dan tinggat di tempat yang kualitas hygienitasnya middle to low.

Bukan sebagai ancaman jika tiba-tiba saja kita bisa diserang oleh jamur ini (bisa tubuh, rumah, pakaian bahkan makanan). Maka, ekstrawaspada perlu ditingkatkan. Pola hidup yang buruk sudah sepatutnya ditinggalkan, misal minimal mengganti pakaian dalam 2 kali sehari. Ada baiknya kita menggunakan kapur barus atau kamper untuk mengusir jamur dan berbagai organisme yang mudah berkembang biak di musim lembab. Untuk yang tinggal di kos perlu diperhatikan sirkulasi udara dan kebersihannya.

Nah kalo begitu, bagaimana dengan pelembab? Masih perlukah? Untuk kita yang sehari-hari berada di ruangan ber AC mungkin perlu karena untuk mencegah kekeringan pada kulit kita (untuk melembabkan tubuh kita faktor utama sebenarnya adalah air, jadi banyaklah minum air). Namun, hampir 80% masyarakat Indonesia tinggal di suhu ruangan bahkan lebih dari 25° C (baca untuk Jakarta 32° C). Jadi kalo kita beli pelembab sama saja mubazir alias janya menguntungkan produsennya saja. Bayangkan di suasana yang lembab anda masih pakai lotion, pelembab muka, pelembab rambut? Maka anda layak dijadikan produsen minyak karena bahan utama pelembab adalah minyak. Jadi, mulai sekarang singkirkan barang-barang yang ternyata tidak kita butuhkan itu.

Persoalan utama menyangkut topik “Jakarta Makin Lembab” adalah mengapa di kota ini terasa sekali kelembabannya? Kenapa banyak rumah yang menggunakan AC? Tidakkah ini pemborosan energi? Yup, seperti yang kita ketahui Jakarta adalah kota polusi. Gas emisi karbon di jakarta sudah luar biasa parahnya. Jadi, sebenarnya sehari-hari kita hidup di lingkungan yang parah dan tidak sehat. Namun apa daya kita tetap butuh tinggal disini untuk mendapatkan kehidupan yang layak. So, menyerahkah anda? No, mulailah dari diri sendiri saja. Banyaklah menanam tanaman dan pepohonan di pekarangan rumah kita. Niscaya ini dapat mengurangi tingkat polusi di rumah kita. Untuk yang kos? No problem, koleksilah tanaman hias jenis daun-daunan di sekitar kos atau kamar anda. Tapi, jangan lupa kalo malam hari tanaman itu harus dikeluarkan dari kamar karena mereka sedang tidak berfotosintesa yang ada malah berebut oksigen dengan anda.

Lingkungan yang sehat dan asri adalah tanggungjawab kita bersama, mulailah dari diri sendiri untuk menciptakan bumi yang hijau untuk menyelamatkan kehidupan umat manusia di dunia. Keep Green & Clean

Categories: Earth & Green

Akhirnya hujan turun juga di Jakarta

October 23, 2008 Arno 2 comments

Beberapa hari ini berita hawa panas yang melanda kota-kota di Indonesia banyak diberitakan di media. Bahkan, suhu ruangan ekstrim sekali hingga mencapai 38 derajat celcius, khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta & Surabaya yang notabene areanya dekat dengan laut.

Di kota Banyuwangi bahkan warganya sampai nekat berbondong-bondong ke pantai sekedar mendapatkan udara segar. Kontras sekali dengan  badai hujan es di seberang benua di Australia kemaren yang diikuti dengan petir dahsyat.

Sedikit berbeda cuaca hari ini di Jakarta sejak pagi yang digelayuti awan mendung. Khususnya di daerah Jakarta Utara yang tingkat curah hujanya lebih sedikit dibandingkan dengan wilayah lain, sejak jam 8 pagi sudah menunjukkan tanda-tanda bakal turun hujan.

Gerimis sempat turun sebentar namun tidak signifikan untuk menghapus kekeringan & panas beberapa hari ini. Finnaly, jam 3 sorean hujan deras dengan intensitas yang cukup membuat banjir lagi kota Jakarta jika mengguyur tanah selama lebih dari dua jam akhirnya turun juga. Diiringi dengan angin dan hawa dingin membuat hujan kali ini terasa seperti penawar semua gundah masyarakat yang terlalu banyak dicekoki dengan masalah negara yang tidak ada kunjung habisnya ini.

Hujan deras selama kurang lebih 2 jam dengan intensitas selang-seling gerimis beberpa menit benar-benar membawa suasana yang berbeda. Hawa segar & bau khas tanah yang baru pertama kali terkena guyuran air membuat pikiran jadi adem dan ayem.

Datangnya hujan ini pertanda bahwa musim penghujan telah datang di Indonesia. Meskipun bulan Oktober sudah tidak dapat digunakan lagi sebagai patokan kapan datangnya pergantian musim akibat pergeseran musim yang tidak jelas akhir-akhir ini, hal yang patut jadi perhatian kita semua adalah penyakit yang mengikutinya di musim pancaroba seperti ini. Jadi, ketahanan tubuh perlu ditingkatkan dengan makan makanan yang sehat plus bergizi serta olahraga yang teratur biar tetap fit.

Semoga hujan kali ini tidak membawa banjir lagi di Jakarta yang sudah penuh dengan masalah ini, karena yang bakal repot adalah warga ibu kota ini sendiri. Piss….

Categories: Earth & Green Tags: