Archive

Archive for May, 2009

Lyuba Bayi Mamut Pembuka Misteri Zaman Es

May 10, 2009 Arno 2 comments

09-05Saya baru saja menyelesaikan bacaan salah satu artikel di website national geographic edisi bulan mei 2009. Topiknya menceritakan tentang penemuan bayi mamut dalam wujud utuh di daratan Siberia baik lapisan lemak, organ-organ dalam bahkan bulu matanya masih utuh, Subhanallah, Lengkapnya klik aja disini.

Penemuan tersebut luar biasa membuka mata dunia khususnya pengetahuan arkeologi. Selama ini penemuan hanya berupa rangka tulang belulang maupun beberapa potongan tubuh yang telah membeku jutaan tahun lamanya. Penemuan ini sontak menguatkan hipotesis dan gambaran ilmuwan selama ini tentang sosok mamut yang sudah banyak diekspose baik melalui film, lukisan, potret dan lain-lain.

Hal yang menarik bagi saya justru bukan bagian yang mengupas tentang si mamut ini yang diberi nama Lyuba ini, tapi tentang hipotesis bagaimana si bayi malang ini menemui ajal dan kondisi lingkungan saat itu. Ya, selama ini kita banyak dijejali dengan wacana adanya jaman es jutaan tahun yang lalu lengkap dengan histori si manusia purba bahkan asumsi-asumsi kehidupan mereka di tiap periode jaman. Sebagai orang awam, antara percaya dan tidak percaya akan adanya era tersebut, lha itu kan ide dan gambaran yang coba dibikin oleh manusia sendiri (baca ilmuwan) jadi boleh dong kalau kita mempunyai gambaran yang berbeda akan jaman itu.

Ada tidaknya jaman es tidaklah penting menjadi perdebatan. Yang perlu dijadikan catatan adalah apa sih yang menyebabkan makhluk seperti mamut itu punah? Benarkah mereka mengalami seleksi alam? Lha kalo memang semuanya mengalami seleksi alam dan berevolusi kok ya buaya dari jaman prehistoric sampai dengan sekarang kok bentuknya seperti itu. Apakah bentuk buaya yang paling bisa mengikuti perubahan jaman? Tidak juga kok. Saya sendiri juga tidak yakin akan teori itu but hampiir 100% para expertise memastikan bahwa faktor kepunahan justru didorong oleh perubahan iklim bumi yang ekstrim.

Seperti yang kita rasakan akhir-akhir ini, beberapa daerah mulai mengalami perubahan cuaca yang sedikit aneh. Anomali-anomali kejadian di beberapa permukaan bumi sepanjang tahun 2000an mulai bermunculan. Mulai dari suhu panas 32° C di Moskwa yang notabene daerah berikilim dingin, salju yang turun di daerah Afrika Selatan yang berikilim sedang (laporan national geofraphic edisi Februari 2009), hingga di negeri kita sendiri juga bisa kita saksikan perubahannya. Tahukan anda bahwa pegunungan Jayawijaya di Papua sana yang dulu dikenal dengan salju abadi yang menyelimutinya kini lapisannya mulai berkurang. Ya, mungkin ini juga yang menjadi penyebab kepunahan mamut pada jaman dulu yang disebabkan perubahan iklim yang eksterm.

Beberapa waktu yang lalu saya sempat berkunjung ke daerah karst atau kita mengenalnya sebagai daerah pegunungan kapur di daerah Tuban, Jawa Timur. Daerah ini memang sedikit sulit untuk mendapatkan air di permukaan karena posisinya secara alami bahwa persediaan air jauh berada di bawah sungai-sungai bawah tanah dalam lekukan gua-gua karst. Beberapa tahun silam di daerah tersebut masih banyak ditemukan mata air alami yang digunakan oleh penduduk setempat untuk keperluan sehari-hari. Kontras dengan yang saya saksikan terakhir, dengan kondisi lahan sudah dibuka untuk pertanian, pemukiman dan paling mencolok adalah kehadiran penambang karst untuk bahan pengolahan pabrik semen, mata air tersebut sudah mengering. Sungai-sungai berubah menjadi daratan yang kering kerontang, kesulitan air bersih sudah pasti dirasakan oleh penduduk di sekitarnya. Nah kalau sudah menjadi seperti ini apakah ada yang bertanggung jawab? Sepertinya tidak.

Nah, apakah fenomena yang dirasakan hampir di semua bagian bumi ini kita terima sebagai hal yang biasa atau membuat kita sadar bahwa kita juga harus berubah untuk menjaga alam ini agar kita sendiri tidak menjadi makhluk punah (meskipun saya pribadi yakin bahwa manusia akan punah pada saatnya). Bukanlah kehidupan kita saat ini yang hanya perlu dijadikan sebagai pertimbangan, namun cobalah untuk sedikit bersama-sama berpikir untuk jauh hari ke depan akan seperti apakah bumi tercinta kita ini. Aktivis pecinta lingkungan sudah banyak melakukan aksi di berbagai tempat, mereka bukan hanya sekedar melakukan protes atas kebijakan pemerintah yang seakan tutup kuping akan hal ini namun jauh lebih dari itu yaitu untuk menyelematkan kita semua. Alih-alih mendengarkan aspirasinya, pemerintah justru berdalih pembangunan dan modernisasi yang dilakukan adalah untuk kemaslahatan masyarakat itu sendiri. Ya semoga hal itu terbukti dengan berjalannya waktu.

Saya pribadi memiliki kebiaasaan yang cukup unik sebagai manusia yang sadar akan lingkungan. Bukan hal yang muluk-muluk kok untuk mengurangi perubahan alam. Ya…hanya mengurangi penggunaan plastik dalam kehidupan kita, terutama plastik pembungkus. Tanpa kita sadari penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari sudah memasuki ambang batas yang mengkhawatirkan. Sifatnya yang tidak bisa diuraikan oleh alam menjadikan gunungan polutan dimana-mana. Nah, anda sendiri apa yang sudah dilakukan? Nggak mau kan kalau tiba-tiba bulan depan menjadi fosil mamut.

Terus terang isu global warming secara pribadi bagi saya bukan omong kosong, toh banyak orang yang mengatakan itu hanya bualan Amerika. Tapi, pasti kita semua menyadari bahwa pesatnya industri dan tata kelola lingkungan yangmakin buruk mendorong cepatnya laju perubahan itu sendiri.  Siap tidak siap perubahan itu memang akan terjadi. Pasti…..

Categories: Earth & Green Tags:

Pecel Madiun atau Blitar….??? Sama Enaknya Sih

May 9, 2009 Arno 6 comments

Hidup sehat itu gampang-gampang susah. Dibilang gampang karena sebenarnya gak butuh biaya besar (baca : kadang-kadang gratis), tapi susah dipraktikan karena tiap orang seleranya beda. Nah, kali ini saya ingin membahas salah satu penentu faktor kesehatan yaitu makanan. Dengan makin banyaknya tayangan di televisi yang menghadirkan wisata kuliner plus jalan-jalan yang menurut saya agak berlebihan dan costly, maka makin banyak orang mencoba aneka jenis makanan yang dicontohkan.

Sebenarnya hal tersebut tidak ada salahnya, lha hidup cuma sekali ya harus dinikmati sepuasnya toh termasuk makan. Well….well…kalau kita berpikir seperti ini maka bisa-bisa sebelum mencapai umur 30 tahun tubuh kita sudah digerogoti berbagai macam penyakit (istilah kerennya penyakit degeneratif). Laporan berbagai media pemberitaan sudah sering menyebutkan bahwa penyakit seperti ini lagi ngetrend tidak hanya dikalangan jet set tapi juga mulai merambah ke kalangan ekonomi menengah.

Faktor terbesar penyebab datangnya penyakit yang menggerogoti tubuh kita semacam kolesterol, darah tinggi, jantung lebih banyak ke faktor gaya hidup terutama makanan. Nah, mumpung masih sehat ada baiknya sejenak membaca tulisan saya perihal makanan yang satu ini. Pecel, ya itu namanya, makanan khas Indonesia (khususnya daerah Jawa Timur dan Tengah) yang satu ini sudah menjadi bagian dari hidup saya yang tidak bisa terpisahkan. Kelezatan bumbu kacang berbaur dengan aneka sayur ditambah dengan peyek dan tempe goreng membuat lidah bergoyang saat menyantapnya. Ditambah dengan nasi panas yang masih mengepul di pagi hari sangat cocok sebagai teman sarapan hmmm……

pecel2Tahukah anda bahwa pecel yang mudah kita temukan ini sebenarnya memiliki dua rasa yang khas, orang banyak mengenalnya dengan nama Pecel Madiun dan Pecel Blitar. Trus, apa ya bedanya? Perbedaan utamanya hanya pada kekuatan rasa pedasnya, pecel madiun agak manis dan terasa lembut kacangnya sedangkan pecel blitar lebih menusuk pedasnya dan adukan kacangnya masih agak kasar. Keduanya pun memili teman pendamping yang berbeda. Jika pecel madiun lebih cocok ditambah dengan aneka masakan bumbu bali misal tahu atau telor bali untuk menambah unsur rasa manis, berbeda dengan pecel blitar yang lebih cocok ditemani dengan tempe goreng polos agar rasa pedasnya meluncur di lidah kita.

Trus….trus….??? Sabar, ada lagi hal yang berbeda untuk menikmati keduanya. Ya, sayur yang digunakan juga berbeda. Kacang Panjang yang direbus adalah sayur yang harus ada di keduanya, namun kalo kita sempat berjalan-jalan di daerah jawa timur maka ada sayur sayng sangat membedakannya. Pecel Madiun yang lebih manis lebih cocok dengan aneka rebusan taoge atau kecambah, kol, bahkan sawi juga cocok plus daun kemangi sebagai penyedapnya, kalau suka bisa ditambahkan pete cina. Nah, kalo pecel blitar lebih ekstrim, karena rasanya yang pedas maka cocok disandingkan dengan sayuran yang lebih tajam rasanya seperti daun singkong, daun pepaya, daun kenikir dan beberapa dedaunan yang kita sukai. Hmmm….rasanya tidak sabar untuk segera menikmati kelezatan kedua pecel ini.

Nah, kalo anda ingin merasakan kelezatan asli keduanya tidak ada salahnya datang langsung ke kota aslinya yaitu Madiun dan Blitar. Tapi, kalo jauh dan menghabiskan ongkos sih… membeli bumbunya langsung di pasar tradisional juga tidak ada salahnya. Selamat mencoba ya…….

Categories: Healthy Life Tags:

Malu Bertanya Sesat Dijalan, Pepatah Lama yang Terbukti

May 8, 2009 Arno 2 comments

Beberapa hari yang lalu saya ngobrol dengan teman kantor via YM di jam mau istirahat malam. Agak ngantuk juga sebenernya saat dia bilang mau menceritakan sesuatu yang baru dia alami. Dia memulai cerita dengan pertanyaan yang menurut saya agak konyol, “Tau tukang bakso gak?” What!! Ya pastinya sebagai masyarakat normal yang suka jajan di depan rumah ya pasti kita paham benar dengan maksud pertanyaannya.

Buru – buru dia meralat pertanyaannya dan langsung ke pokok permasalahannya. This is story about abang bakso yang sedang menangis di komplek rumahnya. Lha kok bisa sih? Dirampok ya baksonya ma preman pasar? Nope, ternyata tukang bakso itu sedang tersesat. Lho..lho…lho…. Jadi, abang bakso ini ceritanya ditemukan ma ibu-ibu kompleksnya sedang duduk merenung sejam lebih. Ketika didekati oleh beberapa warga, sang abang bakso malah menangis. Kontan hal ini membuat warga termasuk teman saya tadi kebingungan.

Diambilkan lah air minum biar tenang si abang bakso dan mulai diinterogasi hal ihwal penyebab dia menangis. Weleh-weleh ternyata tuh abang bakso gak tau jalan pulang kembali ke markasnya alias ke rumah bosnya. Setan alas hari gini masih bisa tersesat dengan jarak dari awal dia berangkat kurang dari 10km (maklum jakarta kali ya). Tapi setelah mendengar ceritanya menjadi maklum ternyata tuh abang baru sehari di jakarta dan langsung nekat jualan dan hebatnya juga kok ya nomor hp bosnya gak bisa dihubungi untuk mengabarkan kalo anak buahnya ini tersesat di kampung sebelah dan gak bisa pulang.

Ampun, kok ya bisa ya? Gak tau lah. Sebagai solusi yang diberikan ma temen saya tadi adalah dengan menitipkan si abang bakso yang tersesat itu ke sesama tukang bakso juga. Hmmm, cerita selanjutnya tidak tahu karena dia sudah pergi dengan teman barunya dan semoga tidak sama-sama tersesat karena akan membuat warga kampung yang didatangi lebih bingung lagi.

Pesan moral : Jangan bekerja kala anda bingung eits salah….. yang bener kalo kerja bawa peta ya!!!

Categories: Lesson from Life Tags: