Tak terasa 5 hari lagi saya akan segera mengakhiri masa lajang atau bujangan dengan mempersunting gadis idaman saya. Tak terasa pula banyak pengalaman dan cerita dibalik persiapan proses pernikahan itu sendiri. Tak lebih dari sekedar berbagi pengalaman dan sebagai upaya saya mengingat kembali betapa indah jalan cerita yang telah ditentukan oleh Ilahi.
Saya masih ingat tepatnya 1 Muharram 1432 H atau 7 Desember 2010 melalui proses ta’aruf oleh sahabat saya Vindy dan Fahri dikenalkanlah dengan seorang wanita bernama Fitry Nur Aini asal kota Madiun. Entah kenapa sejak di awal proses bertemu kami sudah mendapatkan “chemistry” itu dan tentunya ini tidak lepas dari rahmat Allah yang memberikan kami rasa di awal kami jumpa.
Kami berdua bisa dikatakan bertemu di usia yang tidak lagi remaja, sama-sama menginjak 27 yang merupakan umur cukup matang untuk insan saling memadu kasih dalam ikatan yang Halal. Sedari awal saya sudah bertekad bahwa dalam usaha mencari pendamping saya tidak mau lagi menggunakan cara-cara jahiliyah. Dengan niat tulus semata-mata mencari ridho Ilahi saya melakukan proses ta’aruf yang benar menurut syariah Islam. Pertemuan dengan calon saya ini sebenarnya proses yang ketiga. Dua proses sebelumnya gagal dengan alasan gak pas rasanya, jadi bukan berarti proses saya mulus seperti jalan tol.
Menurut Islam tuntunan memilih wanita itu sudahjelas seperti yang disabdakan Rasulullah Sahalallahu’alaihi wassalam, “seorang wanita dinikahi karena empat hal, karena hartanya, kedudukannya, kecantikannya dan agamanya. Maka carilah agamanya niscaya kamu beruntung.” (H.R Bukhari). Maka, inilah yang selalu menjadi pijakan saya dalam memilih pasangan.
Nah, lanjut pada kisah saya berlangsung dengan kedatangan kepada keluarga calon istri dengan berkenalan secara langsung dan mengutarakan maksud dan niat saya. Tepat tanggal 25 Desember 2010 saya tempuh jalur darat berdua dengan sahabat saya Andrew kami bergantian menyopir mobil dari dengan rute Jakarta – Jogja – Madiun – Jogja dalam 2 hari secara langsung. Rasa capek memang tidak terasa terkalahkan oleh niat saya untuk dapat bertemu dengan ayah calon istri saya. Alhamdulillah lancar dan niat saya mendapatkan restu, plong banget rasanya.
Tidak menunggu lama 22 Januari 2011 saya membawa keluarga mengkhitbah atau bahasa umumnya meminang calon istri saya ini. Dengan acara yang sederhana dan penuh khidmat niat saya untuk melanjutkan masa perkenalan ke jenjang pernikahan diberikan kelancaran, dan ditentukan bahwa insyaAllah tanggal 14 Mei 2011 besok saya akan menikah.
Subhanallah, runtutan perjalanan yang sepertinya mulus ini menyimpan begitu banyak cerita yang menunjukkan keberkahan Allah swt. Sampai detik ini tak henti-hentinya saya bersyukur bahwa kasih sayang Allah tercurahkan pada saya. Satu tujuan dan visi dalam pernikahan ini adalah semata-mata untuk mencari ridho Allah dan menjadikan keluarga yang akan saya bina sebagai ladang beramal di dunia ini menuju kehidupan yang kekal kelak.
Sahabat, satu pesan saya apabila anda hendak menikah adalah awali semua perbuatan dan langkah anda dengan niat dan tulus yang suci dan sesuai syariat Islam, insyaAllah akan diberikan kemudahan. Berhati-hatilah dengan tipu daya dan rayuan syetan pada saat bulan-bulan dan minggu menjelang ke pernikahan, karena hasrat untuk saling bertemu dengan pasangan untuk sekedar melepaskan rasa rindu makin besar membuncah. Syetan sangat suka menggoda kita sampai tidak terasa akan mengaburkan bahwa calon pasangan itu statusnya belum menjadi mahram alias masih haram untuk berdua-duaan. Ingatlah peringatan Allah dalam Al – Qur’an surat Al – Isro’ (17): 32
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk”
Maka berhati-hatilah buat pasangan yang hendak menikah untuk saling mengontrol diri untuk tidak mendekati zina. Diperlukan tekad yang kuat untuk menghindarinya karena tidak jarang pasangan yang menyiapkan proses pernikahan sendiri seperti saya yang mencari souvenir dan menyiapkan undangan sendiri dan hampir saja saya terlena dalam bujukan untuk saling memadu kasih dalam ikatan yang belum syah meski hanya memandang saja.
Perbanyak memohon ampun dan sholat hajat serta istikhoroh sangat mustajab bagi sahabat yang sampai saat ini masih mengalami kesulitan bertemu dengan jodohnya, isnyaAllah akan dipertemukan dengan siapa kita akan mengucapkan kalimat ijab kabul dengan tentunya selalu berusaha dengan banyak bergaul dan bersosialisasi. Mengubah pola pikir menjadi dewasa juga sangat diperlukan, karena Allah tidak akan memberikan kita pasangan apabila pribadi kita sendiri belum siap berpasangan.
Akhirnya, semoga Allah merahmati pernikahan kami berdua dan mengumpulkan kami dalam ikatan keluarga yang sakinah, mawaddah dan warrahmah dan dikaruniai anak-anak sholeh yang menjadi perhiasan kami berdua dan menjauhkan kami dari godaan syetan yang terkutuk. Amin.


